Halo, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Yudo Santoso. Dalam artikel ini saya ingin membagikan kisah hidup saya tentang perjalanan menghadapi penyakit gagal ginjal stadium akhir. Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak menimpa teman-teman semua.
Saya divonis gagal ginjal stadium akhir sejak Agustus 2018, tepatnya saya sudah menjalani cuci darah atau hemodialisis selama hampir empat tahun. Usia saya sekarang 36 tahun, tergolong muda untuk mengalami kondisi ini.
Awal Mula Terkena Hipertensi
Semua berawal pada 2011, ketika saya pertama kali merasakan pusing dan kelelahan. Waktu itu saya tidak paham betapa berbahayanya penyakit hipertensi atau darah tinggi. Karena ketidaktahuan, saya hanya minum obat amlodipin saat merasa pusing saja. Saya bahkan sempat berpikir bahwa minum obat rutin justru merusak ginjal. Ternyata pikiran saya keliru besar. Justru tidak mengontrol tekanan darah secara rutin yang mempercepat kerusakan ginjal saya.
Selama 2011 hingga 2017, saya jarang sekali memeriksakan tekanan darah. Saya merasa masih muda, kuat bekerja, sehingga mengabaikan tanda-tanda awal. Padahal penyakit ini perlahan merusak organ vital saya tanpa gejala berarti.
Gejala Awal yang Sering Diabaikan
Gejala awal gagal ginjal memang samar. Saya hanya sering merasa mual di pagi hari, mengalami kram otot, dan kulit saya menjadi kering dan pecah-pecah. Semua saya anggap sepele. Saya juga punya kebiasaan buruk: begadang, main PlayStation hingga dini hari, jarang olahraga, pola makan tidak teratur, dan konsumsi garam tinggi.
Semua kebiasaan buruk itu ternyata memperparah kondisi saya. Bahkan, saya sering mengonsumsi obat sakit gigi sembarangan yang semakin membebani kerja ginjal.
Divonis Gagal Ginjal Stadium Akhir
Pada 2017, saya mulai sering pusing berat dan demam saat bekerja di Lombok. Ketika memeriksakan diri ke rumah sakit, hasil laboratorium menunjukkan bahwa ginjal saya sudah bocor. Kreatinin saya sangat tinggi, racun dalam darah menumpuk, dan dokter memvonis saya harus cuci darah seumur hidup.
Awalnya saya menolak saran dokter. Saya dan keluarga mencari alternatif. Saya konsultasi ke beberapa dokter, tetapi jawabannya sama: hemodialisis adalah jalan satu-satunya agar saya tetap hidup.
Pengalaman Pertama Cuci Darah
Akhirnya, dengan penuh keraguan, saya menjalani cuci darah pertama di Mataram pada 5 Agustus 2018. Prosedur pertama membuat saya syok: jarum besar dipasang di selangkangan dan lengan kanan. Rasanya takut, mual, muntah, dan pusing. Namun, ini jalan terbaik agar saya bisa terus mendampingi istri dan anak saya yang saat itu masih berusia dua tahun.
Kehilangan Harapan dan Bangkit Kembali
Saya sempat kehilangan semangat hidup. Rasanya seperti vonis mati datang lebih cepat. Namun saya sadar, hidup dan mati adalah kuasa Allah. Kejadian pesawat AirAsia yang jatuh membuat saya berpikir: bahkan orang sehat pun bisa meninggal mendadak, sementara saya masih diberi kesempatan hidup meski dengan kondisi ini.
Sejak itu saya mulai ikhlas. Saya bertekad untuk bangkit demi keluarga. Saya rutin kontrol ke dokter, menjaga pola makan rendah garam, berhenti begadang, dan tetap bekerja untuk keluarga.
Pesan Penting untuk Teman-Teman
Dari pengalaman ini, saya ingin mengingatkan:
-
Hipertensi bukan penyakit biasa. Jangan sepelekan tekanan darah tinggi.
-
Minum obat sesuai anjuran dokter justru melindungi ginjal.
-
Hindari begadang, atur pola makan, batasi garam dan gula.
-
Rutin kontrol kesehatan, meskipun merasa sehat.
-
Jika sudah divonis sakit, jangan menyerah, tetap semangat.
Hidup ini hanya sementara. Penyakit bukanlah akhir segalanya. Kita tetap bisa bermanfaat untuk orang lain.
Kesimpulan
Kisah saya semoga menjadi pelajaran. Penyakit gagal ginjal bisa dicegah jika kita sadar pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Bagi yang sudah sakit, tetap semangat. Hidup dan mati di tangan Allah, tugas kita adalah berusaha dan ikhlas menerima takdir.
Ringkasan
Artikel ini mengisahkan Yudo Santoso, pria berusia 36 tahun yang sejak 2018 harus menjalani cuci darah (hemodialisis) seumur hidup akibat gagal ginjal stadium akhir. Penyebab utama adalah kebiasaan mengabaikan hipertensi yang dideritanya sejak 2011. Karena ketidaktahuan, Yudo jarang minum obat tekanan darah dan tidak rutin kontrol ke dokter. Tanda-tanda awal seperti mual pagi, kram otot, kulit kering diabaikan. Gaya hidupnya yang sering begadang, pola makan tinggi garam, dan konsumsi obat sembarangan memperburuk kondisinya. Pada 2017, saat bekerja di Lombok, Yudo divonis ginjal bocor dengan kadar kreatinin tinggi. Awalnya ia menolak cuci darah, namun akhirnya ia menerima kenyataan dan menjalani prosedur pertama pada Agustus 2018. Yudo sempat putus asa, tapi kemudian sadar bahwa hidup dan mati adalah ketentuan Allah. Kini ia tetap semangat, menjaga pola hidup sehat, rutin hemodialisis, dan bekerja demi keluarga. Ia berpesan pada semua orang agar tidak menyepelekan hipertensi, minum obat sesuai anjuran dokter, menghindari begadang, serta rutin memeriksa kesehatan. Untuk sesama penderita gagal ginjal, Yudo mengajak tetap tegar, berusaha, dan ikhlas. Kisah ini diharapkan membuka mata pembaca akan pentingnya pencegahan sejak dini.


















Comment