Siapa sangka, kebiasaan menyepelekan kesehatan dapat berujung pada kondisi yang sangat serius? Inilah kisah nyata Mas Andi, seorang pria berusia 33 tahun, yang harus menghadapi vonis gagal ginjal stadium 5 akibat hipertensi yang tidak terkontrol. Cerita ini menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih peduli pada kesehatan, sekecil apa pun gejalanya.
Awal Gejala: Dari Insomnia Hingga Asam Lambung
Kisah ini bermula sekitar Oktober 2021. Saat itu, Mas Andi mulai merasakan gejala seperti susah tidur dan masalah asam lambung. Ia sempat memeriksakan diri ke dokter dan diberi obat lambung, tetapi tidak ada perbaikan signifikan. Saat itu juga tekanan darahnya mulai naik perlahan.
Sayangnya, Mas Andi memiliki kebiasaan buruk: hanya minum obat tekanan darah jika merasa pusing. Kebiasaan bolong-bolong minum obat inilah yang memperparah kondisinya. Meski sudah mendapatkan resep Amlodipine 10 mg, Mas Andi jarang mengonsumsinya secara rutin.
Titik Kritis: Pingsan di Depan UGD
Pada 5 Desember 2021, Mas Andi sedang dalam perjalanan keluar kota. Tiba-tiba ia mengalami sesak napas hebat. Badannya lemas, sulit bernapas, hingga akhirnya pingsan tepat di depan Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit terdekat. Saat sadar, ia melihat istrinya menangis di sampingnya.
Hasil pemeriksaan darah menunjukkan fungsi ginjalnya sudah sangat menurun. Kreatinin melonjak, ureum tinggi, dan eGFR menunjukkan ginjal hampir sepenuhnya tidak berfungsi. Dokter memvonisnya gagal ginjal stadium 5 atau CKD stage 5.
Penolakan Cuci Darah: Harapan yang Salah
Seperti kebanyakan orang, Mas Andi menolak menjalani cuci darah (hemodialisis) saat pertama divonis. Ia bahkan sempat menahan diri selama dua minggu meski kondisi tubuhnya semakin memburuk. Kreatinin naik drastis dari 22 menjadi 37. Berat badannya pun membengkak, sulit tidur, muntah-muntah, hingga menggigil karena kadar kalium yang tinggi.
Akhirnya, Mas Andi menyerah dan memutuskan pulang ke Surabaya. Di sana ia melakukan tes ulang, dan dokter kembali menegaskan: cuci darah harus segera dilakukan.
Prosedur Cuci Darah Pertama
Hari pertama cuci darah menjadi pengalaman yang menegangkan bagi Mas Andi. Jarum besar, selang panjang, suara mesin dialisis—semuanya menambah kecemasan. Akses jarum ditusukkan ke lengan kanannya. Dalam seminggu, Mas Andi diwajibkan menjalani cuci darah dua kali.
Setelah beberapa kali hemodialisis, kondisi Mas Andi perlahan membaik. Rasa menggigil hilang, tidur mulai nyenyak, nafas lebih lega, dan pembengkakan di tubuh pun berangsur turun.
Manfaat BPJS: Penyelamat Finansial
Bagi banyak orang, biaya cuci darah menjadi momok menakutkan. Sekali prosedur cuci darah mandiri bisa mencapai Rp1.250.000. Jika harus dua kali seminggu, biaya sebulan bisa menembus jutaan rupiah. Untungnya, Mas Andi terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan aktif. Seluruh biaya hemodialisis ditanggung penuh BPJS, mulai dari prosedur hingga obat penunjang seperti Neurobion atau zat besi.
Hanya beberapa vitamin tambahan yang harus dibeli mandiri dengan harga relatif terjangkau, sekitar Rp150.000 per bulan.
Kini Lebih Sehat dan Bersyukur
Uniknya, Mas Andi merasa kualitas hidupnya justru lebih baik setelah rutin cuci darah. Tidurnya pulas, tubuh lebih bugar, dan ia jarang lagi merasa cepat lelah. Ia bahkan mengatakan kondisinya kini lebih fit dibanding saat sebelum divonis gagal ginjal.
Meski harus disiplin kontrol dan cuci darah dua kali seminggu, Mas Andi tetap semangat. Baginya, keluarga—anak dan istri—adalah motivasi utama untuk terus bertahan dan menjalani perawatan dengan ikhlas.
Tiga Pesan Penting dari Mas Andi
Dari pengalaman pahit ini, Mas Andi membagikan tiga pesan penting untuk kita semua:
Rutin Cek Kesehatan: Jangan remehkan check-up rutin, meski hanya sekadar tes tekanan darah atau fungsi ginjal. Masalah kecil bisa menjadi besar jika diabaikan.
Hidup Sehat: Atur pola makan, cukup tidur, dan berolahraga. Dengarkan sinyal dari tubuh sekecil apa pun.
Ingat Keluarga: Anak dan istri adalah motivasi terbesar untuk menjaga kesehatan. Jangan sia-siakan orang yang kita cintai dengan lalai menjaga tubuh.
Kesimpulan
Kisah Mas Andi menjadi pelajaran berharga bahwa hipertensi yang disepelekan dapat menjadi bencana besar. Kebiasaan menunda minum obat, enggan check-up, dan tidak mendengarkan gejala awal membuat Mas Andi harus hidup berdampingan dengan mesin cuci darah seumur hidup. Namun, semangat dan dukungan keluarga membuatnya bertahan. Semoga cerita ini membuka mata kita bahwa mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Ringkasan
Mas Andi, 33 tahun, divonis gagal ginjal stadium 5 pada Desember 2021 akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Gejala awal seperti insomnia dan asam lambung diabaikan. Puncaknya, ia pingsan di depan UGD dan dinyatakan harus menjalani hemodialisis. Awalnya menolak, Mas Andi akhirnya menjalani cuci darah rutin dan kini merasakan hidupnya jauh lebih sehat dibanding sebelum sakit. Berkat BPJS, biaya cuci darah tertutupi, meski tetap ada biaya tambahan vitamin. Mas Andi berpesan agar kita rutin check-up, menjalani hidup sehat, dan selalu ingat keluarga sebagai motivasi utama menjaga kesehatan. Cerita Mas Andi menegaskan: cegah lebih baik daripada mengobati.
(Sumber artikel : Podcast dr. Kevin Max dan Andy Suryansyah)
Komen admin pemilik blog ini
Sebaiknya kita punya alat pengukur tensi yang bagus untuk bisa cek secara mandiri setiap hari, bisa kita beli via marketplace yang kualitas bagus harga +/- Rp. 400 ribu merek Omron. Juga kita harus disiplin minum rutin obat tensi dari dokter setiap hari, kalau habis bisa beli sendiri di apotek, seperti dari narasumber adalah amlodipine 10 mg. Kalau admin sendiri memakai wadah sendiri dan beri tanda hari Senin, Selasa… Minggu dan admin plastikin obat per hari supaya tidak lupa.


















Comment